Ekonomi RI Dihantui Resesi, Ini Saham yang Siap Serok

berita utama ekonomi nasional

Jakarta, OMN MetroNews  Suka tidak suka, mau tidak mau, Indonesia kemungkinan bakal mengalami resesi. Pahit memang, tetapi pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) membuat ekonomi dunia mengkerut, bukan cuma Indonesia.

Dalam proyeksi terbarunya, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi dunia mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) 4,9%. Lebih dalam dibandingkan proyeksi sebelumnya yakni -3%.

Lembaga yang berkantor pusat di Washington DC (Amerika Serikat/AS) itu juga merevisi ke bawah proyeksi untuk Indonesia. Awalnya, IMF memperkirakan ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 0,5% pada tahun ini. Namun proyeksi terbaru memperkirakan ekonomi Tanah Air akan terkontraksi -0,3%.

Definisi resesi sendiri adalah kontraksi ekonomi dalam dua kuartal beruntun pada tahun yang sama. Pada kuartal I-2020, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 2,97%.

Jika pada kuartal III-2020 kontraksi kembali terjadi, maka Indonesia secara sah dan meyakinkan akan masuk jurang resesi. Pemerintah memperkirakan ekonomi pada kuartal III-2020 berada di kisaran -1% hingga 1,2%.Namun pada kuartal II-2020, sepertinya Indonesia sudah tidak bisa menghindar dari kontraksi. Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan, memperkirakan ekonomi April-Juni akan terkontraksi dalam kisaran -3,5% hingga -5,1%.

Kemungkinan kontraksi masih ada, sehingga risiko resesi tidak bisa dikesampingkan. “Secara definisi begitu (resesi). Namun kita berharap kuartal III tidak negatif,” ujar Sri Mulyani.

Akan tetapi ada kabar baik pula, Bank investasi global Morgan Stanley (MS) memprediksi bahwa krisis ekonomi di Indonesia tidak akan berlangsung lama.Menurut MS pada Kuartal-I 2021 Produk Domestik Bruto (GDP) riil Indonesia sudah kembali ke level sebelum terserang pandemi corona.

Sektor apakah di Indonesia yang masih layak untuk dikoleksi di tengah krisis ekonomi untuk meraup untung setelah Indonesia sukes melewati krisis? Salah satu alasan cepatnya pemulihan ekonomi Indonesia adalah karena GDP Indonesia sebagian besar di dukung oleh sektor konsumsi domestik yang kuat, tahun lalu sektor ini menyumbang 56,62% dari total GDP nasional.

Hal inilah yang menyebabkan Indonesia mulai pulih dari virus nCov-19 dan daya beli masyarakat sudah kembali naik, perekonomian akan dengan cepat kembali membaik dan tidak terlalu terpengaruh oleh negara-negara lain yang masih berkutat dengan dampak ekonomi dari Covid-19.

Maka dari itu salah satu syarat sektor bisnis di Indonesia yang layak dikoleksi adalah sektor bisnis tersebut harus memiliki pasar domestik yang kuat.

Selain itu ada baiknya saham yang di koleksi adalah saham yang tergolong saham siklus yang artinya kinerja saham ini bergantung pada siklus perekonomian saat itu, dimana ketika perekonomian membaik maka kinerja perusahaan tersebut akan menanjak juga, begitu pula sebaliknya.

Selain itu di tengah resesi, biasanya saham siklus akan tertekan lebih parah daripada saham non-siklus, sehingga bisa dikatakan diskon saham ini akan lebih besar dibanding saham lain maka potensi keuntungan juga akan lebih besar.

Selanjutnya sektor otomotif juga termasuk sebagai saham siklus yang artinya ketika terjadinya resesi maka orang-orang akan menunda melakukan pembelian kendaraan bermotor karena daya beli masyarakat menurun dan sifat produknya yang non-esensial.Kedua syarat ini dipenuhi oleh sektor otomotif Indonesia. Hampir semua produk sektor otomotif Indonesia dijual di pasar domestik dan memiliki track record konsumsi domestik yang tinggi.

Akan tetapi ketika perbaikan ekonomi sudah terjadi maka masyarakat akan lebih cenderung melakukan pembelian kendaraan bermotor baik untuk konsumsi ataupun sebagai alat produksi untuk mendorong produktivitas.

Berikut Saham-saham yang bergerak di sektor otomotif dan sektor pendukungnya.

Dengan menggunakan metode harga pasar dibandingkan dengan nilai bukunya (PBV) valuasi perusahaan yang paling murah di sektor otomotif adalah saham PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) dengan PBV sebesar 0,23 kali jauh lebih rendah dari rata-rata industri di angka 2,1 kali.

Akan tetapi pada Kuartal pertama tahun 2020 perusahaan terpaksa membukukan rugi bersih sebesar Rp 164,5 miliar dampak dari penurunan penjualan otomotif karena pandemi virus corona.

Namun apabila menggunakan metode valuasi harga pasar dibandingkan dengan pendapatan perusahaan (PER) saham PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) adalah yang paling murah.

Perusahaan yang menjadi distributor merek sepeda motor Honda ini juga menjadi perusahaan yang paling murah yaitu sebesar 8,24 kali, angka ini juga lebih rendah dari rata-rata industri di angka 19,5 kali.

TIM RISET CNBC INDONESIA