Berebut Hutan Lindung dan Fasum Masyarakat

batam berita utama hukum

OMN MetroNews.Com, Batam – Puluhan tokoh masyarakat bersama lurah Kabil turun ke lokasi fasum Lapangan bola dan lahan SMP 63 untuk mengukur kedua fasum tersebut bersama pegawai BPN 30/10/2019 berlokasi di Jln bumi perkemahan Kabil. Baru saja turun melihat lokasi, rombongan di hadang oleh sekelompok orang mengaku lahan fasum tersebut milik ibu Barus didapat dari membeli kepada Abdul Karim. Sempat terjadi cekcok bahkan ada yang tersalut emosi, hingga akhirnya pihak kepolisian polsek Nongsa mengamankan perselisihan tersebut.
Menurut keterangan salah satu RT di Kabil Topik Sipayung mengatakan, terkait lapangan bola kabil, sebelum 2004 pemindahan warga kavling baru, lapangan itu sudah ada dimana lapangan itu dipindahkan dari lokasi yang sekarang telah menjadi SMPN 17 hibah dari Idris MD. Terkait lahan sekolah yang berada di samping lapangan bola, juga dihibahkan oleh Idris MD jadi kalau ada surat berdasarkan alasak Karim tentunya kami tidak tau. Dan sekitar dua minggu yang lalu, ada pertemuan di aula kantor lurah kabil, dihadiri seluruh RT RW sekabil, pihak kuasa ibu barus yang membeli dari Karim, pihak polsek Nongsa dan mantan lurah kabil pak Asril, sudah jelas keterangan yang kami dengar bersama. Bahwa surat lahan ibu barus yang di beli dari Karim ternyata ada pemalsuan tanda tangan mantan lurah pak Asril yang sekarang bertugas di pemprov pekanbaru. Artinya, surat itu tidak sah secara hukum. Keterangan ini disampaikan mantan lurah tersebut langsung dan setelah itu beliau membuat laporan ke polsek nongsa. Hal senada juga disampaikan Nixon Sihombing, SH kuasa hukum masyarakat kabil. Dan jika surat itu terus yang digaungkan untuk mengambil lahan fasum masyarakat, maka saya akan menempuh jalur hukum. Lagi nixon mengatakan, saya sudah menyampaikan kepada pihak-pihak yang mengarap hutan lindung sekarang, coba selesaikan permasalahan lahan yang digarap untuk dijadikan kavling itu dengan dusuk bersama para pihak pemilik arau pewaris lahan, dan jangan melibatkan fasum yang sudah menjadi milik masyarakat. Tapi saya melihat, ada beberapa masyarakat mengambil keuntungan disini berdiri diantara para pengarap lahan segingga melibatkan fasum masyarakat. Sepertinya mereka inilah biang keributan, terang Nixon sambil menceritakan ketegangan dilokasi tadi. Pihak polsek dihubungi melalusi Hp mengarahkan media tentang pemalsuan ini ke reskrim polsek nongsa. Tapi sampai berita ini diturunkan belum mendapat keterangan tentang pemalsuan tanda tangan tersebut. (Agung)